SISWA SMK WD SIAP JADI AGEN PERUBAHAN ANTI PERUNDUNGAN

 Kemendikbudristek bekerjasama dengan UNICEF Indonesia dan mitra melaksanakan yang merupakan partner dari Kemendikbudristek menginisiasi program pencegahan perundungan dan kekerasan berbasis sekolah melalui Program Roots. program ini akan disampaikan kepada ke lebih dari 1800 SMP dan SMA Sekolah Penggerak dan SMK Pusat Keunggulan. Program Roots Indonesia akan melibatkan siswa sebagai perubahan dan guru sebagai Fasilitatornya.

Sebanyak 30 peserta agen perubahan anti perundungan dari masaing-masing kelas mengikuti kegiatan fasilitasi dari fasilitator. Fasilitator Guru bertujuan untuk memfasilitasi diskusi yang dilakukan bersama dengan Agen Perubahan dalam pertemuan rutin Roots setiap minggunya, Fasilitator Guru juga berperan dalam memfasilitasi siswa untuk melaporkan serta menindaklanjuti laporan perundungan atau kekerasan di sekolah.

Penekana dalam program ini adalah Sekolah itu harus bahagia, Bahagia dengan guru dan dengan teman-temannya. Gesekan dan konflik tetap ada
Ketika siswa harus bahagia kenyataanya apa begitu? _Ternyata masih belum_. Ternyata diantara kita masih banyak yang belum bahagia karena teman-temannya. Ada yang masih membuly (perundungan).
Agen sosialisasikan anti perundungan.
Perundungan itu menyakiti secara sebgaja baik omongan maupun fisik yang dilakukan secara terus menerus.
Kita semua harus memberantas perundungan, karena itu ada agen perubahan. Bukan hanya mengurangi tapi menghapus perundungan di sekolah. Secara teknis akan disampaikan oleh tim, apakah nanti harus melapor kepada bapak ibu guru atau menangani sendiri. Jangan sampai yang jadi mentornya perundungan kok merundung yang lain.

Selanjutnya peserta masih akan melewati serangkaian program yang dilaksanakan kurang lebih sampai 2 bulan lamanya untuk berdikusi dan saling sharing terkait progres sebagai agen anti perundungan. Peserta juga akan belajar bagaimanajika menemukan siswa yang dirundung untuk menyelesaikan atau melaporkan kepada fasilitator.